Menu
Redaksi | Selasa, 21 Maret 2023 02:47 WIB | 208 kali

Tuntunan Shalat Tarawih

Shalat tarawih merupakan shalat yang hukumnya sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Shalat tarawih merupakan shalat malam atau di luar Ramadhan disebut dengan shalat tahajud. Shalat malam merupakan ibadah yang Primer di bulan Ramadhan Buat mendekatkan diri pada Allah Ta’ala. Ibnu Rajab rahimahullah dalam Lathoif Al Ma’arif berkata, “Ketahuilah bahwa seorang mukmin di bulan Ramadhan Mempunyai dua jihadun nafs (jihad pada jiwa) Yakni jihad di siang hari dengan puasa dan jihad di malam hari dengan shalat malam. Barangsiapa yang menggabungkan dua ibadah ini, maka ia akan mendapati pahala yang Tidak hingga.”

 

Keutamaan Shalat Tarawih

Shalat tarawih mengampuni dosa yang telah lewat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

???? ????? ????????? ????????? ????????????? ?????? ???? ??? ????????? ???? ????????

 

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan Sebab iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah Lampau akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan merupakan shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh Imam Nawawi (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39). Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih Dapat menggugurkan dosa dengan syarat dilakukan Sebab iman Yakni membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan Sebab riya’ atau Dalih lainnya (Lihat Fathul Bari, 4:251). Imam Nawawi menjelaskan, “Yang sudah ma’ruf di kalangan fuqoha bahwa pengampunan dosa yang dimaksudkan di sini merupakan dosa kecil, bukan dosa besar. Dan mungkin saja dosa Akbar ikut terampuni Kalau seseorang benar-benar menjauhi dosa kecil.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:40).

 

Lebih Semangat di Akhir Ramadhan

Selayaknya bagi setiap mukmin Buat Lanjut semangat dalam beribahadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih dari lainnya. Di sepuluh hari terakhir tersebut terdapat lailatul qadar. Allah Ta’ala berfirman,

 

???????? ????????? ?????? ???? ?????? ??????

 

“Malam kemuliaan itu lebih Bagus dari seribu bulan” (QS. Al Qadar: 3). Telah terdapat keutamaan yang Akbar bagi Manusia yang menghidupkan malam tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

???? ????? ???????? ????????? ????????? ????????????? ?????? ???? ??? ????????? ???? ????????

 

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar Sebab iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah Lampau akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat lebih Giat di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

 

????? ??????? ??????? -??? ???? ???? ????- ?????????? ??? ????????? ??????????? ??? ??? ?????????? ??? ????????.

 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan Melampaui kesungguhan beliau di Masa yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan Misalnya dengan memperbanyak ibadahnya ketika sepuluh hari terakhir Ramadhan. Buat maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam Tiba menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun Tak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka Buat melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan. ‘Aisyah mengatakan,

 

????? ?????????? – ??? ???? ???? ???? – ????? ?????? ????????? ????? ?????????? ? ????????? ???????? ? ?????????? ????????

 

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan Buat memperbanyak ibadah di akhir Ramadhan dan disunnahkan pula Buat menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8:71)

 

Semangat Tarawih Berjama’ah

Sudah sepantasnya setiap muslim mendirikan shalat tarawih tersebut secara berjama’ah dan Lanjut melaksanakannya hingga imam salam. Sebab siapa saja yang shalat tarawih hingga imam selesai, ia akan mendapat pahala shalat semalam penuh. Padahal ia Cuma sebentar saja mendirikan shalat di Masa malam. Sungguh inilah karunia Akbar dari Allah Ta’ala. Dari Arang Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

???? ????? ???? ?????????? ?????? ?????????? ?????? ???? ??????? ????????

 

“Barangsiapa yang shalat Berbarengan imam hingga imam selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat semalam penuh.” (HR. Tirmidzi no. 806, shahih menurut Syaikh Al Albani)

 

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih itu sunnah. Tetapi mereka berselisih pendapat apakah shalat tarawih itu afdhol dilaksanakan sendirian atau berjama’ah di masjid. Imam Syafi’i dan mayoritas ulama Syafi’iyah, juga Imam Arang Hanifah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa yang afdhol merupakan shalat tarawih dilakukan secara berjama’ah sebagaimana dilakukan oleh ‘Umar bin Al Khottob dan sahabat radhiyallahu ‘anhum. Kaum muslimin pun Lanjut ikut melaksanakannya seperti itu.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39).

 

11 ataukah 23 Raka’at?

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam Tak Mempunyai batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam merupakan shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang Ingin juga boleh mengerjakan dengan jumlah raka’at yang banyak.” (At Tamhid, 21/70). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab,

 

??????? ????????? ??????? ??????? ? ??????? ?????? ?????????? ????????? ?????? ???????? ????????? ? ??????? ???? ??? ???? ??????

 

“Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at. Kalau salah seorang di antara kalian takut masuk Masa shubuh, maka kerjakanlah Esa raka’at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Padahal ini dalam konteks pertanyaan. Seandainya shalat malam itu Eksis batasannya, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya.

Al Baaji rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi ‘Umar memerintahkan para sahabat Buat melaksanakan shalat malam sebanyak 11 raka’at. Tetapi beliau memerintahkan seperti ini di mana bacaan tiap raka’at begitu panjang, Yakni imam Tiba membaca 200 ayat dalam Esa raka’at. Sebab bacaan yang panjang dalam shalat merupakan shalat yang lebih afdhol. Saat Orang semakin lemah, ‘Umar Lalu memerintahkan para sahabat Buat melaksanakan shalat sebanyak 23 raka’at, Yakni dengan raka’at yang ringan-ringan. Dari sini mereka Mampu mendapat sebagian keutamaan dengan menambah jumlah raka’at.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27/142)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Semua jumlah raka’at di atas (dengan 11, 23 raka’at atau lebih dari itu, -pen) boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai Rupa Langkah tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih Primer merupakan melaksanakan shalat malam Sinkron dengan kondisi para jama’ah. Jika jama’ah kemungkinan Bahagia dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih Baik melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik. Tetapi apabila para jama’ah Nir Bisa melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang Poly dipraktekkan oleh Poly ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at merupakan jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan Nir dikatakan makruh sedikit pun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya. Oleh Sebab itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan Mempunyai batasan Sapta Eksklusif dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga Nir boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh Beliau telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

 

Tuntunan Lain Shalat Tarawih

Shalat tarawih lebih afdhol dilakukan dua raka’at salam, dua raka’at salam. Dasarnya merupakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat malam merupakan dua raka’at dua raka’at.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749). Ulama Akbar Syafi’iyah, An Nawawi Saat menjelaskan hadits “shalat sunnah malam dan siang itu dua raka’at, dua raka’at”, beliau rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud hadits ini merupakan bahwa yang lebih afdhol merupakan mengerjakan shalat dengan setiap dua raka’at salam Bagus dalam shalat sunnah di malam atau siang hari. Di sini disunnahkan Buat salam setiap dua raka’at. Tetapi Kalau menggabungkan Semua raka’at yang Eksis dengan sekali salam atau mengerjakan shalat sunnah dengan Esa raka’at saja, maka itu dibolehkan menurut kami.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:30)

 

Para ulama sepakat tentang disyariatkannya istirahat setiap melaksanakan shalat tarawih empat raka’at. Inilah yang sudah turun temurun dilakukan oleh para salaf. Tetapi Nir mengapa Jika Tak istirahat Saat itu. Dan juga Nir disyariatkan Buat membaca do’a Eksklusif Saat istirahat. (Lihat Al Inshof, 3/117)

 

Tidak Eksis histori mengenai bacaan surat Eksklusif dalam shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, surat yang dibaca boleh Bhineka Sinkron dengan keadaan. Imam dianjurkan membaca bacaan surat yang Nir Tiba memproduksi jama’ah bubar meninggalkan shalat. Seandainya jama’ah bahagia dengan bacaan surat yang panjang-panjang, maka itu lebih baik. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1:420)

 

Menutup Shalat Malam dengan Witir

Shalat witir merupakan shalat yang dilakukan dengan jumlah raka’at ganjil (1, 3, 5, 7 atau 9 raka’at). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

????????? ????? ??????????? ??????????? ??????

 

“Jadikanlah akhir shalat malam kalian merupakan shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751). Kalau shalat witir dilakukan dengan tiga raka’at, maka Bisa dilakukan dengan dua cara: (1) tiga raka’at, sekali salam [HR. Al Baihaqi], (2) mengerjakan dua raka’at terlebih dahulu Lalu salam, Kemudian ditambah Esa raka’at Lalu salam [HR. Ahmad 6:83].

 

Dituntunkan pula Saat witir Buat membaca do’a qunut. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, ” Apa hukum membaca do’a qunut setiap malam Saat (shalat sunnah) witir?” Jawaban beliau rahimahullah, “Tidak masalah mengenai hal ini. Do’a qunut (witir) merupakan sesuatu yang disunnahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun Umum membaca qunut tersebut. Beliau pun pernah mengajari (cucu beliau) Al Hasan beberapa kalimat qunut Buat shalat witir (Allahummahdiini fiiman hadait, wa’aafini fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata’aalait, -pen) [HR. Arang Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464, shahih kata Syaikh Al Albani]. Ini termasuk hal yang disunnahkan. Kalau engkau merutinkan membacanya setiap malamnya, maka itu Tak mengapa. Begitu pula Kalau engkau meninggalkannya suatu Masa sehingga orang-orang Tak menyangkanya wajib, maka itu juga Nir mengapa. Kalau imam meninggalkan membaca do’a qunut suatu Masa dengan tujuan Buat mengajarkan Orang bahwa hal ini Tak wajib, maka itu juga Nir mengapa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Saat mengajarkan do’a qunut pada cucunya Al Hasan, beliau Tak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian Masa saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir Lanjut menerus merupakan sesuatu yang dibolehkan. (Fatawa Nur ‘alad Darb, 2:1062)

 

Setelah witir dituntunkan membaca, “Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan mengeraskan Bunyi pada bacaan ketiga (HR. An Nasai no. 1732 dan Ahmad 3/406, shahih menurut Syaikh Al Albani). Juga dapat membaca bacaan “Allahumma inni a’udzu bika bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” [Ya Allah, saya berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan saya berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. saya Nir Bisa menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau merupakan sebagaimana yang Engkau sanjukan untuk diri-Mu sendiri] (HR. Arang Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An Nasai no. 1100 dan Ibnu Majah no. 1179, shahih kata Syaikh Al Albani)

 

Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih

Berikut beberapa kekeliruan Ketika Penyelenggaraan shalat tarawih berjama’ah dan Tak Eksis dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

  1. Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan Namun yang Pas merupakan setiap Manusia membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Sebab dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) merupakan sesuatu yang Tak Eksis tuntunannya dalam syari’at Islam yang Kudus ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190)

  2. Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi berkata, “Tidaklah Legal puasa seseorang kecuali dengan niat. Lokasi niat merupakan dalam hati, Nir disyaratkan Buat diucapkan dan pendapat ini Nir terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, 1:268).

  3. Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Nir Eksis tuntunan Buat memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:140).

  4. Mengkhususkan dzikir atau do’a Eksklusif antara sela-sela duduk shalat tarawih, apalagi dibaca secara berjama’ah. Sebab ini Jernih Nir Eksis tuntunannya (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:144).

 

Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keistiqomahan Buat menghidupkan malam-malam kita dengan shalat tarawih. Wallahu waliyyut taufiq.

 

Panggang-Gunung Kidul, 28 Sya’ban 1432 H (30/07/2011)

 

Artikel www.muslim.or.id, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com


Tags :

Share :

Baca Juga